<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hidup itu indah</title>
	<atom:link href="http://hidupituindah.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hidupituindah.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Jan 2010 03:58:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV dan AIDS!</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2010/01/06/540/lawanlah-stigma-dan-diskriminasi-untuk-memenangi-perang-melawan-hiv-dan-aids-2.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2010/01/06/540/lawanlah-stigma-dan-diskriminasi-untuk-memenangi-perang-melawan-hiv-dan-aids-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 03:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan &#8220;Live and Let Live&#8221; (Hidup dan Tetap Tegar), telah ditetapkan menjadi tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003.
Kampanye AIDS Dunia selalu memberikan isu khusus tentang upaya pencegahan dan perawatan pada waktu-waktu tertentu; serta memberikan arahan dalam mengadakan berbagai acara pada Hari AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember setiap tahun.
Kenapa Stigma dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan &#8220;Live and Let Live&#8221; (Hidup dan Tetap Tegar), telah ditetapkan menjadi tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003.</p>
<p>Kampanye AIDS Dunia selalu memberikan isu khusus tentang upaya pencegahan dan perawatan pada waktu-waktu tertentu; serta memberikan arahan dalam mengadakan berbagai acara pada Hari AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember setiap tahun.</p>
<p><strong>Kenapa Stigma dan Diskriminasi?</strong></p>
<p>Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan -pada gilirannya- akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV dan AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV dan AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran Odha dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV dan AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan, dan ini didukung oleh, ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan kelompok lainnya merasa superior.</p>
<p>Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV dan AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.</p>
<p>Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Terjadi di tengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan kesehatan. Orang bisa melakukan diskriminasi baik dalam kapasitas pribadi maupun profesional, sementara  lembaga bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan dan kegiatan mereka.</p>
<p>Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  dilihat sebagai &#8220;masalah&#8221;, bukan sebagai bagaian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.</p>
<p>Di banyak negara, hukum, kebijakan, dan peraturan memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang mendukung untuk pencegahan HIV dan AIDS, dukungan dan perawatan. Tetapi meskipun kebijakan dan hukum yang mendukung telah ada, upaya penegakan hukum yang lemah menyebabkan stigma dan diskriminasi terus berlangsung; hal ini karena sering hanya ada sedikit pertanggungjawaban terhadap tindakan-tindakan diskriminasi atau ganti rugi bagi mereka yang telah mengalami stigma dan diskriminasi. Berbagai negara dan lembaga dapat juga menciptakan dan mempersubur  stigma dan diskriminasi melalui hukum, peraturan, dan kebijakan yang terkesan mendiskrimasi Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS atau orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Dengan berfokus kepada stigma dan diskriminasi, kampanye AIDS dunia (the World AIDS Campaign) berharap bisa menyemangati orang untuk memecahkan kesunyian dan penghalang untuk pencegahan dan perawatan HIV dan AIDS yang efektif. Hanya dengan melawan stigma dan diskriminasi maka perang melawan HIV dan AIDS dapat dimenangkan.</p>
<p><strong>Tujuan Global HIV dan AIDS</strong></p>
<p>Deklarasi Komitmen yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB dalam sesi khusus tentang HIV dan AIDS menyerukan untuk memerangi stigma dan diskriminasi. Ini menunjukkan fakta bahwa diskriminasi merupakan pelanggaran HAM. Ini juga secara jelas menyatakan bahwa melawan stigma dan diskriminasi adalah merupakan prasyarat untuk upaya pencegahan dan perawatan yang efektif.</p>
<p>Kampanye AIDS Dunia terhadap stigma dan diskriminasi diharapkan akan mengadvokasi negara-negara untuk mengurangi stigma, diskriminasi dan pelanggaran HAM.</p>
<p><strong>Apa Saja Issunya?</strong></p>
<p>Dukungan Bagi Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan keluarga</p>
<p>Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS mengalami proses berduka dalam kehidupannya -sebuah proses yang seharusnya mendorong pada penerimaan terhadap kondisi mereka. Namun, masyarakat dan lembaga terkadang memberikan opini negatif serta memperlakukan Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan keluarganya sebagai warga masyarakat kelas dua. Hal ini menyebabkan melemahnya kualitas hidup Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS .</p>
<p>Tempat Layanan Kesehatan</p>
<p>Sering terjadi, lembaga yang diharapkan memberikan perawatan dan dukungan, pada kenyataannya merupakan tempat pertama orang mengalami stigma dan diskriminasi. Misalnya, memberikan mutu perawatan medis yang kurang baik, menolak memberikan pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang salah kaprah. Contoh dari stigma dan diskriminasi yang dihadapi ini adalah: alasan dan penjelasan kenapa seseorang tidak diterima di rumah sakit (tanpa didaftar berarti secara langsung telah ditolak), isolasi, pemberian label nama atau metode lain yang mengidentifikasikan seseorang sebagai HIV positif, pelanggaran kerahasiaan, perlakuan yang negatif dari staf, penggunaan kata-kata dan bahasa tubuh yang negatif oleh pekerja kesehatan, juga akses yang terbatas untuk fasilitas-fasilitas rumah sakit.</p>
<p>Akses untuk Perawatan</p>
<p>Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  seringkali tidak menerima akses yang sama seperti masyarakat umum dan kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai akses untuk pengobatan ARV mengingat tingginya harga obat-obatan dan kurangnya infrastruktur medis di banyak negara berkembang untuk memberikan perawatan medis yang berkualitas.</p>
<p>Bahkan ketika pengobatan ARV tersedia, beberapa kelompok mungkin tidak bisa mengaksesnya, misalnya karena persyaratan tentang kemampuan mereka untuk mengkonsumsi sebuah zat obat, yang mungkin terjadi pada kelompok pengguna narkoba suntikan.</p>
<p>Pendidikan</p>
<p>Hak untuk mendapat pendidikan bagi  Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan kelompok lain yang rentan terkadang diremehkan melalui penolakan untuk memasukkan murid ke sekolah dan universitas, penolakan untuk mengakses fasilitas sekolah, perlakuan yang negatif dari teman sebaya dan lainnya di lingkungan sekolah, pengucilan di kelas, dan tidak adanya keinginan untuk mengajak siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan, dll. Lebih jauh lagi, cara mengajar tanpa diskriminasi HIV dan AIDS seringkali tidak masuk dalam kurikulum.</p>
<p>Sistem Peradilan</p>
<p>Perilaku negatif atau prasangka terhadap Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dapat direfleksikan dengan penolakan atau akses yang lebih sedikit untuk sistem peradilan dan penilaian menyangkut isu-isu seperti kerahasiaan status HIV dan perlindungan dalam kasus perkosaan/penganiayaan. Sistem peradilan juga dapat meningkakan stigmatisasi, misalnya ketika kelompok yang rentan, misalnya pekerja seks dan pengguna narkoba, dianggap bersalah ketimbang diberi dukungan untuk mencegah penularan HIV.</p>
<p>Politik</p>
<p>Kalangan eksekutif yang tidak berbuat apa-apa di bidang HIV dan AIDS dapat melegitimasi stigma dan diskriminasi, khususnya ketika sikap diskriminasi ditujukan kepada Odha dan orang-orang di sekitarnya,  Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS atau kelompok marjinal lainnya diabaikan dalam proses penegakan hukum, dan mereka yang melakukan diskriminasi dibiarkan saja.</p>
<p>Organisasi Kepercayan</p>
<p>Pada beberapa kejadian, organisasi kepercayaan turut memberikan prasangka buruk terhadap  Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan keluarganya. Ini secara khusus terlihat lewat perlakuan terhadap isu seksualitas, sess dan penggunaan narkoba, penggunaan alat kontrasepsi, pasangan seksual lebih dari satu, dan adanya kepercayaan bahwa HIV dan AIDS adalah merupakan kutukan dari Tuhan.</p>
<p>Media</p>
<p>Beberapa jurnalis tidak mempunyai pengetahuan yang cukup atau informasi dasar ketika memberitakan situasi yang menyangkut kelompok rentan dan Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS . Kesalahan informasi bisa mendorong adanya komentar yang tidak pantas, penggunaan istilah yang negatif, sensasionalisasi pelanggaran kerahasiaan dan terus berlangsungnya perlakuan negatif terhadap  Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan mereka yang terkena dampaknya, seperti juga terhadap kelompok yang rentan.</p>
<p>Tempat Kerja</p>
<p>Kemampuan untuk membiayai hidup dan untuk dipekerjakan adalah merupakan hak dasar manusia. Isu-isu yang berhubungan dengan HIV dan AIDS menyangkut pengangkatan dan pemecatan, keamanan karyawan, pemecatan yang tidak adil, asuransi kesehatan, absen dari kerja untuk tujuan kesehatan, alokasi kerja, lingkungan yang aman, gaji dan tunjangan, perlakuan atasan dan rekan kerja, skining HIV untuk semua karyawan, promosi dan pelatihan. Seringkali pemikiran di balik isu-isu terkait ini adalah adanya kepercayaan bahwa tidak ada gunanya menginvestasi uang pada seseorang yang akhirnya toh akan meninggal. Tidak adanya kebijakan perekrutan adalah kondisi rumit yang seringkali terabaikan.</p>
<p>Sumber :<a title="Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV dan AIDS!" href="http://www.kesrepro.info/?q=node/305"></a></p>
<p><a title="Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV dan AIDS!" href="http://www.kesrepro.info/?q=node/305">Kesrepro dot info</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2010/01/06/540/lawanlah-stigma-dan-diskriminasi-untuk-memenangi-perang-melawan-hiv-dan-aids-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memerangi HIV dan AIDS</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/12/15/537/memerangi-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/12/15/537/memerangi-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 02:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun belakangan, angka kasus endemi HIV dan AIDS meningkat tajam di seluruh Indonesia. Wabah ini terutama dipicu oleh para penyalahguna narkoba suntik dan para pekerja seks komersil. Akibatnya, resiko tertular anak muda di Indonesia menjadi semakin tinggi. Bahkan menurut perkiraan, menjelang 2010 sekitar 110.000 orang Indonesia akan menderita atau meninggal karena AIDS. Sedangkan jutaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun belakangan, angka kasus endemi HIV dan AIDS meningkat tajam di seluruh Indonesia. Wabah ini terutama dipicu oleh para penyalahguna narkoba suntik dan para pekerja seks komersil. Akibatnya, resiko tertular anak muda di Indonesia menjadi semakin tinggi. Bahkan menurut perkiraan, menjelang 2010 sekitar 110.000 orang Indonesia akan menderita atau meninggal karena AIDS. Sedangkan jutaan lainnya akan terjangkit HIV positif.<span id="more-537"></span></p>
<p>Sementara itu prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang menjalani tes masih berada di bawah tiga persen. Sayangnya data untuk penduduk secara umum masih kurang.  Kendala utamanya adalah stigma, diskriminasi dan kurangnya pengetahuan masyarakat. Pada 2003, satu per tiga remaja putri dan satu per lima remaja putra usia antara 15-24 tahun ternyata belum pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Situasi ini semakin parah karena obat anti retroviral sangat minim.</p>
<p>Kecenderungan menunjukkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan beresiko mengalami epidemi yang lebih besar. Peningkatan kasus penularan HIV di kalangan kelompok beresiko di beberapa daerah di Indonesia menjadi salah satu indikator potensi kenaikan yang cukup mengkhawatirkan.</p>
<p>Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai penyakit menular ini melalui pendidikan dan advokasi masyarakat menjadi hal yang utama. Tujuannya untuk mencegah penyebaran epidemi ini lebih luas lagi. Kalau tidak, maka stigma, diskriminasi dan ketidaktahuan akan tetap menjadi kendala bagi upaya penanggulangan lebih jauh.</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a title="Memerangi HIV dan AIDS" href="http://www.unicef.org/indonesia/id/hiv_aids.html">Unicef</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">
<p>Beberapa tahun belakangan, angka kasus endemi HIV dan AIDS meningkat tajam di seluruh Indonesia. Wabah ini terutama dipicu oleh para penyalahguna narkoba suntik dan para pekerja seks komersil. Akibatnya, resiko tertular anak muda di Indonesia menjadi semakin tinggi. Bahkan menurut perkiraan, menjelang 2010 sekitar 110.000 orang Indonesia akan menderita atau meninggal karena AIDS. Sedangkan jutaan lainnya akan terjangkit HIV positif.</p>
<p>Sementara itu prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang menjalani tes masih berada di bawah tiga persen. Sayangnya data untuk penduduk secara umum masih kurang.  Kendala utamanya adalah stigma, diskriminasi dan kurangnya pengetahuan masyarakat. Pada 2003, satu per tiga remaja putri dan satu per lima remaja putra usia antara 15-24 tahun ternyata belum pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Situasi ini semakin parah karena obat anti retroviral sangat minim.</p>
<p>Kecenderungan menunjukkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan beresiko mengalami epidemi yang lebih besar. Peningkatan kasus penularan HIV di kalangan kelompok beresiko di beberapa daerah di Indonesia menjadi salah satu indikator potensi kenaikan yang cukup mengkhawatirkan.</p>
<p>Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai penyakit menular ini melalui pendidikan dan advokasi masyarakat menjadi hal yang utama. Tujuannya untuk mencegah penyebaran epidemi ini lebih luas lagi. Kalau tidak, maka stigma, diskriminasi dan ketidaktahuan akan tetap menjadi kendala bagi upaya penanggulangan lebih jauh.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>UnicefBeberapa tahun belakangan, angka kasus endemi HIV dan AIDS meningkat tajam di seluruh Indonesia. Wabah ini terutama dipicu oleh para penyalahguna narkoba suntik dan para pekerja seks komersil. Akibatnya, resiko tertular anak muda di Indonesia menjadi semakin tinggi. Bahkan menurut perkiraan, menjelang 2010 sekitar 110.000 orang Indonesia akan menderita atau meninggal karena AIDS. Sedangkan jutaan lainnya akan terjangkit HIV positif.</p>
<p>Sementara itu prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang menjalani tes masih berada di bawah tiga persen. Sayangnya data untuk penduduk secara umum masih kurang.  Kendala utamanya adalah stigma, diskriminasi dan kurangnya pengetahuan masyarakat. Pada 2003, satu per tiga remaja putri dan satu per lima remaja putra usia antara 15-24 tahun ternyata belum pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Situasi ini semakin parah karena obat anti retroviral sangat minim.</p>
<p>Kecenderungan menunjukkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan beresiko mengalami epidemi yang lebih besar. Peningkatan kasus penularan HIV di kalangan kelompok beresiko di beberapa daerah di Indonesia menjadi salah satu indikator potensi kenaikan yang cukup mengkhawatirkan.</p>
<p>Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai penyakit menular ini melalui pendidikan dan advokasi masyarakat menjadi hal yang utama. Tujuannya untuk mencegah penyebaran epidemi ini lebih luas lagi. Kalau tidak, maka stigma, diskriminasi dan ketidaktahuan akan tetap menjadi kendala bagi upaya penanggulangan lebih jauh.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Unicef</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/12/15/537/memerangi-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terharu Semangat Para Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS Menjalani Hidup</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/12/08/531/terharu-semangat-para-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids-menjalani-hidup.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/12/08/531/terharu-semangat-para-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids-menjalani-hidup.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 08:58:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[odha]]></category>
		<category><![CDATA[ohida]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[NGOMONGIN soal HIV dan AIDS terdengar mengerikan karena yang kita hadapi adalah virus yang sangat berbahaya. Tapi, sebenarnya kalau kita paham tentang penyakit itu, kita nggak akan takut berlebihan hingga mengucilkan orang-orang yang mengidap HIV dan AIDS.
Jangan sampai kita sebagai manusia normal mengucilkan para penderita HIV dan AIDS. Sebab, mereka juga manusia biasa yang butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>NGOMONGIN </strong>soal HIV dan AIDS terdengar mengerikan karena yang kita hadapi adalah virus yang sangat berbahaya. Tapi, sebenarnya kalau kita paham tentang penyakit itu, kita nggak akan takut berlebihan hingga mengucilkan orang-orang yang mengidap HIV dan AIDS.<span id="more-531"></span></p>
<p>Jangan sampai kita sebagai manusia normal mengucilkan para penderita HIV dan AIDS. Sebab, mereka juga manusia biasa yang butuh kasih sayang dan perhatian. Mereka kan udah menderita karena penyakitnya, masak dibikin lebih menderita</p>
<p>lagi dengan perlakuan nggak adil dari orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Aku pernah berinteraksi langsung dengan Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Ceritanya, ketika awal-awal aku pindah ke Jakarta, dalam sebuah acara rohani, aku dan teman-teman berkunjung ke pusat rehabilitasi di Jakarta. Di tempat rehabilitasi itu, nggak hanya penderita HIV dan AIDS, ada juga yang kecanduan narkoba atau depresi karena masalah hidup.</p>
<p>Mayoritas usianya masih seumuran aku. Misi kami datang ke sana adalah untuk menghibur dan member semangat hidup kepada mereka. Reaksi kami ketika pertama tiba di sana macam-macam. Ada temanku yang sempat takut, &#8220;Gimana ya kalau gue ntar kena juga karena berdekatan sama mereka?&#8221;</p>
<p>Tapi, setelah mendapat pengarahan dari panti rehabilitasinya, kita jadi lebih yakin. Panti menegaskan bahwa kalau cuma ngobrol sama mereka, kita nggak akan tertular. Tibalah saatnya kami berinteraksi dengan para penderita HIV dan AIDS di panti itu. Ada yang menatap penuh keheranan. Ada yang terlihat antusias. Ada pula yang  malah kelihatan enggan.</p>
<p>Ya, wajarlah, mereka sudah sering mengalami penolakan dari lingkungan sekitar. Maka, kalau bertemu orang asing, mereka agak menutup diri. Dengan tekad ingin menghibur dan memotivasi, kami mengajak mereka ngobrol secara personal. Kami ingin meyakinkan mereka bahwa niat kami tulus ingin menjadi teman bagi mereka.</p>
<p>Akhirnya, ekspresi penolakan tadi berubah jadi kehangatan. Suasana yang tadinya tegang jadi cair. Mereka tak lagi sungkan bercerita tentang masalahnya kepada kami. Dari obrolan tersebut, aku jadi tahu bahwa salah satu hal yang bisa membuat mereka bertahan adalah semangat mereka untuk hidup dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang bermanfaat.</p>
<p>Sebab, jika mereka udah tidak memiliki semangat hidup, kemungkinan untuk bertahan atau sembuh semakin kecil. Dari para Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  itu, aku mendapatkan pelajaran soal menghargai hidup. Jangan sia-siakan hidupmu dan isilah dengan kegiatan yang bermanfaat, dan jangan memberikan Stigma dan Diskriminasi kepada Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS.</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a title="Terharu semangat para orang yang hidup dengan HIV dan AIDS" href="http://jawapos.com/deteksi/index.php?act=detail&amp;nid=103457">GO Jawa Post</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/12/08/531/terharu-semangat-para-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids-menjalani-hidup.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Negara Tercepat Penularan HIV dan AIDS di Asia</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/29/528/indonesia-negara-tercepat-penularan-hiv-dan-aids-di-asia.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/29/528/indonesia-negara-tercepat-penularan-hiv-dan-aids-di-asia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 06:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[odha]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[BANDUNG, KOMPAS.com-Rendahnya pengetahuan masyarakat terkait penularan dan pencagahan virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome) AIDS, menjadikan Indonesia sebagai negara tercepat dalam penularan HIV dan AIDS di Asia.
Yudhi F Oktaviadhi, penulis buku Syair Untuk Sahabat mengatakan hal itu dalam acara bedah buku Syair Untuk Sahabat dan kampanye AIDS di Sekolah Tinggi Bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDUNG, KOMPAS.com-Rendahnya pengetahuan masyarakat terkait penularan dan pencagahan virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome) AIDS, menjadikan Indonesia sebagai negara tercepat dalam penularan HIV dan AIDS di Asia.</p>
<p>Yudhi F Oktaviadhi, penulis buku Syair Untuk Sahabat mengatakan hal itu dalam acara bedah buku Syair Untuk Sahabat dan kampanye AIDS di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari ABA, akhir pekan.</p>
<p>Dikatakan, informasi berupa poster dan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) mengenai HIV, masih belum cukup efektif untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Banyak yang salah menangkap pesan dalam poster atau ILM tentang AIDS, terutama para remaja.</p>
<p>Menyadari minimnya informasi yang bisa diperoleh mengenai AIDS, Yudhi yang juga merupakan jurnalis tabloid Bola, mencoba berpartisipasi dengan menulis buku Syair Untuk Sahabat, yang berisi tentang kisah-kisah nyata kehidupan Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS yang dikumpulkan sejak 2003.</p>
<p>Sebelumnya banyak buku mengenai AIDS tetapi tidak mudah dipahami, karena dalam bentuk cerita dan dengan cara pendekatan yang berbeda, buku ini jadi lebih mudah dipahami. Dikatakan Yudhi, diharapkan masyarakat bisa memahami apa itu AIDS, sehingga tidak keliru dalam meyikapi AIDS, minimal untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar.</p>
<p>Hal yang dijauhi itu virusnya, bukan orangnya, tidak masalah jika hanya bersalaman atau bersentuhan karena hampir 90% Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS  Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS yang dikumpulkan sejak 2003.yang dikumpulkan sejak 2003. disingkirkan oleh keluarganya sendiri dan tidak diterima di Rumah Sakit (RS).</p>
<p>Juga dibutuhkan Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS  yang dikumpulkan sejak 2003. bukan hanya obat penunda kematian, tetapi juga perhatian dan dukungan dari keluarga dan kerabat terdekat. Pengucilan hanya akan mempercapat kematian Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS yang dikumpulkan sejak 2003. karena merasa tertekan, depresi dan tidak diterima.</p>
<p>Dikatakan Yudhi, kematian akibat HIV AIDS, umumnya akibat terlambat diagnosis karena masyarakat Indonesia tidak sadar bahwa virus AIDS bisa menjangkit pada siapapun meski tidak melakukan hubungan seksual, narkoba dan mengonsumsi alkohol. Namun jika mengonsumsi obatan-obatan terlarang secara bersama-sama resikonya lebih besar. Orang yang mimum obat-obatan bersama-sama, dalam waktu tiga atau empat tahun kemudian, 99 persen dapat lebih muda terkena AIDS.</p>
<p>Masih menurut Yudhi, hubungan seksual dengan sesama laki-laki, sangat berisiko dalam penularan AIDS karena dapat menimbulkan luka dan darah yang menjadi media untuk memudahkan penularan. Hubungan sesama jenis menjadi penyebab utama penularan HIV dan AIDS di Amerika.</p>
<p> </p>
<p>sumber :</p>
<p> </p>
<p><a title="Indonesia Negara tercepat penularan HIV dan AIDS" href="http://muhshodiq.wordpress.com/2009/07/20/indonesia-negara-tercepat-penularan-hivaids-di-asia/">M Shodiq Mustika</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/29/528/indonesia-negara-tercepat-penularan-hiv-dan-aids-di-asia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Harus Dilakukan Keluarga Orang Yang Hidup Dengan HIV dan AIDS?</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/28/525/apa-yang-harus-dilakukan-keluarga-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/28/525/apa-yang-harus-dilakukan-keluarga-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 09:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[Hidup sebagai orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  tidaklah mudah. Perasaan sensitif menyebabkan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  semakin mengucilkan diri dari komunitasnya. Untuk itu, orang yang hidup dengan HIV dan AIDS sangat membutuhkan dukungan untuk mempersiapkan mental, menenangkan diri, dan membangkitkan semangat hidup. Mereka juga berharap keluarga memahami keberadaan mereka.
Kebanyakan keluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup sebagai orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  tidaklah mudah. Perasaan sensitif menyebabkan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS  semakin mengucilkan diri dari komunitasnya. Untuk itu, orang yang hidup dengan HIV dan AIDS sangat membutuhkan dukungan untuk mempersiapkan mental, menenangkan diri, dan membangkitkan semangat hidup. Mereka juga berharap keluarga memahami keberadaan mereka.</p>
<p>Kebanyakan keluarga menghadapi beberapa masalah dalam memahami keberadaan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Yang utama, akibat kurangnya informasi, sehingga menimbulkan ketakutan pada keluarga (orang tua, kakak, adik, pasangan, temanl). Hal ini semakin diperburuk oleh adanya ketakutan pada masyarakat, dan ketidaksiapan rumah sakit merawat penderita HIV dan AIDS. Sebagian rumah sakin menolak menerima pasien orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.</p>
<p>Sesungguhnya orang yang hidup dengan HIV dan AIDS membutuhkan sentuhan yang lebih manusiawi. Mereka berharap diperlakukan tidak berbeda, dijamin kerahasiaan status HIV-nya, persahabatan &amp; rasa empati, tetap aktif bekerja (jika masih produktif), dukungan &amp; bantuan dari lingkungan sekitar, dukungan &amp; perawatan ketika sakit, dukungan &amp; kerjasama dari pasangan.</p>
<p>Yang kerap menjadi kebingungan keluarga adalah apa yang harus dilakukan keluarga bila orang yang hidup dengan HIV dan AIDS mengalami gejala demam, diare, masalah kulit, gangguan mulut dan tenggorokan, mual dan muntah, nyeri, kelelahan dan kelemahan, depresi, dll?</p>
<p>Di bawah ini tindakan yang bisa dilakukan keluarga keluarga dalam memberikan perawatan kepada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.</p>
<p>1. Demam :<br />
o Menyelimuti orang yang hidup dengan HIV dan AIDSatau memberikan baju hangat.<br />
o Jangan mencoba mendinginkan badan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS ( memberi kompres, memandikan atau menyiramkan air ).<br />
o Usahakan supaya orang yang hidup dengan HIV dan AIDS cukup minum.<br />
o Berikan penderita HIV dan AIDS obat penurun panas, seperti : Aspirin , Parasetamol.dll.</p>
<p>2. Diare. Ada tiga prinsip penting yang harus diperhatikan :<br />
• Minum cairan lebih banyak dari biasanya.<br />
• Teruskan makan seperti biasanya.<br />
• Kenali tanda – tanda kurang cairan atau dehidrasi.</p>
<p>3. Masalah kulit<br />
• Membersihkan kulit dengan teratur dengan menggunakan sabun dan air kemudian mengeringkannya untuk mencegah masalah – masalah : seperti : gatal –gatal, kulit kering, infeksi jamur, bakteri, virus.<br />
• Mengurangi gatal bisa juga dengan cara berikut :<br />
 Mendinginkan kulit dengan air atau diangin-anginkan.<br />
 Mengolesi obat lotion anti gatal.<br />
 Kuku harus di potong pendek untuk mencegah lecet akibat garukan, dan menggaruk dengan telapak tangan.</p>
<p>4. Gangguan mulut dan tenggorokan<br />
Penyebabnya adalah : infeksi jamur, herpes simpleks, kurang gizi, sarkoma kaposi, masalah gigi dan sebagainya.<br />
Untuk mengatasinya :<br />
o Makan makanan yang bergizi, seperti buah, sayuran.<br />
o Untuk mengurangi rasa sakit, makan makanan lunak, hindari makanan pedas, bila minum pakai sedotan.</p>
<p>Untuk mencegah masalah di mulut dapat digunakan larutan air garam ( 1 gelas air + ½ sendok teh garam ) untuk kumur- kumur.</p>
<p>5. Mual dan muntah.<br />
Pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS yang muntah lakukan cara berikut:<br />
• Hentikan makanan / minuman selama satu sampai dua jam.<br />
• Perlahan – lahan minum air hangat kuku, teh encer, Oralit 2 sendok makan setiap jam selama 2-3 jam.<br />
• Tingkatkan jumlah cairan sampai 4-6 sendok makan setiap jam selama 2-3 jam dan tingkatkan terus.<br />
• Makanan yang dianjurkan adalah makanan yang mudah dicerna.<br />
• Ruangan harus cukup ventilasi.</p>
<p>6. Nyeri<br />
Muncul pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS fase lanjut. Penyebabnya adalah karena kurang gerak. Cara menangani nyeri:<br />
• Menganjurkan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS untuk menarik nafas dalam dan teratur.<br />
• Menghilangkan kecemasan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.<br />
• Melakukan pemijitan ringan.<br />
• Memberikan obat anti nyeri ringan seperti : aspirin / parasetamol.</p>
<p>7. Kelelahan dan kelemahan<br />
Keluhan ini muncul pada fase akhir penyakit yang dapat ditimbulkan oleh adanya infeksi HIV atau yang berkaitan dengan HIV, gizi yang buruk, depresi, kurang hemoglobin dalam darah ( anemia ). Untuk mengurangi keluhan ini lakukan cara berikut :<br />
• Pilahlah pekerjaan yang dapat dilakukan sendiri atau perlu bantuan keluarga.<br />
• Istirahat yang cukup.<br />
• Keluarga harus aktif membantu pekerjaan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.</p>
<p>8. Kecemasan dan Depresi<br />
Sering muncul pada tahap awal mengetahui status HIV ( + ).<br />
Tanda- tandanya dan cara mengatasinya :<br />
• Prinsipnya keluarga harus memberikan kesempatan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS untuk bicara dan mengungkapkan perasaannya, orang yang hidup dengan HIV dan AIDS hanya butuh di dengar.<br />
• Perlu kelompok dukungan .<br />
• Alkohol tampaknya memang bisa membuat relaks, tetapi pada akhirnya akan membuat kecemasan / depresi semakin parah.<br />
• Keluhan-keluhan di atas dirujuk jika tidak dapat diatasi di rumah.</p>
<p>9. Perawatan paliatif<br />
Pada tahap akhir penyakit AIDS tidak ada lagi yang bisa diperbuat untuk mengatasi infeksi oportunistik atau gejala lain yang timbul.. Pada tahap ini perawatan hanya untuk memberikan rasa nyaman saja pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Perawatan seperti ini disebut perawatan paliatif.<br />
Kapan di mulai?<br />
• Bila pengobatan medis tidak tersedia atau sudah tidak efektif.<br />
• Bila orang yang hidup dengan HIV dan AIDS mengatakan sudah siap meninggal dan tampak sangat sakit ( parah ).<br />
• Pada keadaan ini orang yang hidup dengan HIV dan AIDS harus diberikan semangat untuk tidak menyerah.<br />
• Bila organ yang vital seperti, jantung, paru hati sudah mengalami kegagalan fungsi.</p>
<p>Di mana perawatan diberikan? Bisa di rumah maupun di rumah sakit. Sebagian orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dan keluarganya ingin orang yang hidup dengan HIV dan AIDS meninggal di rumah.</p>
<p>Tujuan perawatan paliatif adalah membuat klien merasa nyaman dan terhindar dari masalah yang membuat mereka resah, membantu mereka untuk tetap mandiri, menghibur saat klien berduka cita, membantu klien dan keluarga menyiapkan kematian, dan membantu klien agar tetap bisa ada di masyarakat dan keluarga selagi masih bisa.</p>
<p> </p>
<p>Sumber :</p>
<p> </p>
<p><a title="Apa Yang Harus Dilakukan Kelurga Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS" href="http://prov.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=744">BKKBN</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/28/525/apa-yang-harus-dilakukan-keluarga-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beri Dukungan Kepada Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/25/522/beri-dukungan-kepada-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/25/522/beri-dukungan-kepada-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[odha]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Pengasuh Klinik Mawar (klinik HIV dan AIDS) menyatakan, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS perlu mendapatkan perhatian dari orang sehat dan menganggap mereka sebagai teman. Bukan justru sebaliknya menjadikannya stigma (cap jelek) di tengah-tengah masyarakat.
&#8220;Seorang Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS bukan zamannya lagi dikucilkan. Tapi justru diberikan dukungan semangat hidup agar mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengasuh Klinik Mawar (klinik HIV dan AIDS) menyatakan, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS perlu mendapatkan perhatian dari orang sehat dan menganggap mereka sebagai teman. Bukan justru sebaliknya menjadikannya stigma (cap jelek) di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>&#8220;Seorang Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS bukan zamannya lagi dikucilkan. Tapi justru diberikan dukungan semangat hidup agar mereka bisa bertahan secara psikologik sampai ajal menjemputnya,&#8221; kata Ketua Tim Klinik Mawar dr. Simanjuntak, kemarin. <span id="more-522"></span></p>
<p>Para Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS bukanlah hantu atau gunderuwo yang harus dihindari. Karena penyakit yang bersarang ditubuh mereka, tidak mudah menular ke tubuh orang lain yang sehat.</p>
<p>Penyakit HIV dan AIDS ini hanya menular lewat tiga cara saja. Antaranya, transfusi darah, jarum suntik dan hubungan seksual. Ketigannya merupakan hal utama yang dapat menyebabkan HIV dan AIDS bersarang dalam tubuhnya. Hubungan seks misalnya, hubungan seks dengan seorang yang berjangkit, prosesnya melalui pemindahan cairan badan seperti sperma, atau darah dari tubuh seseorang ke tubuh seseorang yang lain. Melalui darah yang telah dijangkiti HIV, umpamanya menggunakan jarum suntikan yang tidak steril, pemindahan darah atau organ-organ badan. Kemudian bisa juga dari ibu yang telah dijangkiti HIV kepada anaknya semasa kehamilan, kelahiran atau penyusuan.</p>
<p>Sedangkan aktivitas lainnya, seperti berenang bersama orang yang terjangkit HIV dan AIDS, berciuman, bersentuhan dan sebagainya tidak menularkan ke tubuh kita. Ingat katanya, jangkitan HIV tidak seperti virus selesma (flu). Ia tidak bisa berjangkit melalui udara.</p>
<p>&#8220;Jadi sekali lagi saya tekankan kita tidak perlu khawatir akan dijangkiti virus HIV melalui pergaulan biasa dengan penghidap HIV. Apalagi sampai menjauhinya,&#8221; tekannya lagi.</p>
<p>Dijelaskannya juga, virus HIV hanya bisa hidup dalam tubuh manusia. Ia akan mati bila sudah berada di udara terbuka. &#8220;Jadi apa yang diinginkan John (28) seorang penderita HIV dan AIDS pasien kita di sini memang betul. Bahwa di akhir hidupnya tak ingin dikucilkan, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS ini benar karena yang selama ini terjadi penyakit HIV dan AIDS sering menjadi momok di tengah masyarakat bahkan sudah menjadi stigma,&#8221; tambah pengasuh Klinik Mawar saat berada di ruang inap John, beberapa hari lalu. Pengasuh Klinik Mawar (klinik HIV dan AIDS) menyatakan, Orang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS perlu mendapatkan perhatian dari orang sehat dan menganggap mereka sebagai teman. Bukan justru sebaliknya menjadikannya stigma (cap jelek) di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>&#8220;Seorang Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS bukan zamannya lagi dikucilkan. Tapi justru diberikan dukungan semangat hidup agar mereka bisa bertahan secara psikologik sampai ajal menjemputnya,&#8221; kata Ketua Tim Klinik Mawar dr. Simanjuntak, kemarin.</p>
<p>Para Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS bukanlah hantu atau gunderuwo yang harus dihindari. Karena penyakit yang bersarang ditubuh mereka, tidak mudah menular ke tubuh orang lain yang sehat.</p>
<p>Penyakit HIV dan AIDS ini hanya menular lewat tiga cara saja. Antaranya, transfusi darah, jarum suntik dan hubungan seksual. Ketigannya merupakan hal utama yang dapat menyebabkan HIV dan AIDS bersarang dalam tubuhnya. Hubungan seks misalnya, hubungan seks dengan seorang yang berjangkit, prosesnya melalui pemindahan cairan badan seperti sperma, atau darah dari tubuh seseorang ke tubuh seseorang yang lain. Melalui darah yang telah dijangkiti HIV, umpamanya menggunakan jarum suntikan yang tidak steril, pemindahan darah atau organ-organ badan. Kemudian bisa juga dari ibu yang telah dijangkiti HIV kepada anaknya semasa kehamilan, kelahiran atau penyusuan.</p>
<p>Sedangkan aktivitas lainnya, seperti berenang bersama orang yang terjangkit HIV dan AIDS, berciuman, bersentuhan dan sebagainya tidak menularkan ke tubuh kita. Ingat katanya, jangkitan HIV tidak seperti virus selesma (flu). Ia tidak bisa berjangkit melalui udara.</p>
<p>&#8220;Jadi sekali lagi saya tekankan kita tidak perlu khawatir akan dijangkiti virus HIV melalui pergaulan biasa dengan penghidap HIV. Apalagi sampai menjauhinya,&#8221; tekannya lagi.</p>
<p>Dijelaskannya juga, virus HIV hanya bisa hidup dalam tubuh manusia. Ia akan mati bila sudah berada di udara terbuka. &#8220;Jadi apa yang diinginkan John (28) seorang Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS pasien kita di sini memang betul. Bahwa di akhir hidupnya tak ingin dikucilkan, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS ini benar karena yang selama ini terjadi penyakit HIV dan AIDS sering menjadi momok di tengah masyarakat bahkan sudah menjadi stigma,&#8221; tambah pengasuh Klinik Mawar saat berada di ruang inap John, beberapa hari lalu.</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a title="Beri Dukungan Kepada orang yang hidup dengan hiv dan aids" href="http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&amp;id=75287">Pontianak Post</a></p>
<p><script type="text/javascript">// <![CDATA[// <![CDATA[
google_ad_client = "pub-1627263711759387";
/* 468x60, dibuat 08/02/04 */
google_ad_slot = "2618591588";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
// ]]&gt;</script> <script src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript">
</script><script type="text/javascript">// <![CDATA[// <![CDATA[
google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad);
// ]]&gt;</script><ins style="border: medium none; margin: 0pt; padding: 0pt; display: inline-table; height: 60px; position: relative; visibility: visible; width: 468px;"><ins style="border: medium none; margin: 0pt; padding: 0pt; display: block; height: 60px; position: relative; visibility: visible; width: 468px;"></ins></ins></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/25/522/beri-dukungan-kepada-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fakta Seputar HIV dan AIDS</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/22/515/fakta-seputar-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/22/515/fakta-seputar-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[fakta]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[HIV dan AIDS, mungkin kata ini mungkin asing bagi kita. Namun tahukah anda bahwa virus HIV ini sudah sangat dekat dengan kita? Mereka bukan lagi orang asing yang tidak kita kenal lagi. Beberapa diantara mereka adalah ibu rumah tangga, pemuda dan eksekutif muda yang sangat sulit untuk kita tahu. Bahkan untuk tahu angka pasti Orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HIV dan AIDS, mungkin kata ini mungkin asing bagi kita. Namun tahukah anda bahwa virus HIV ini sudah sangat dekat dengan kita? Mereka bukan lagi orang asing yang tidak kita kenal lagi. Beberapa diantara mereka adalah ibu rumah tangga, pemuda dan eksekutif muda yang sangat sulit untuk kita tahu. Bahkan untuk tahu angka pasti Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS di Indonesia sangatlah sulit. Sebuah venomena gunung es yang sulit disingkap.</p>
<p>Hal ini memang tidak mengherankan. Maklum saat ini stigma masyarakat terhadap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS masih sangat menyakitkan. Banyak orang menganggap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS adalah sampah masyarakat, penyakit maksiat yang pantas dijauhi bahkan dibakar. Bukan hanya pada diri mereka tetapi juga pada keluarga. Padahal Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS juga manusia yang memiliki hak hidup layak bahkan membutuhkan dukungan moral yang lebih dari orang lain. Stigma seperti inilah yang seringkali membuat Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS tidak mau membuka diri. Orang yang terinfeksi HIV tidak dapat diketahui dari penglihatan biasa saja. Pada kenyataannya pengidap HIV terlihat sangat sehat dan masih dapat bekerja dengan baik seperti yang sehat. Ketakutan akan stigma seperti ini juga membuat orang orang yang beresiko tinggi takut memeriksakan diri. Sebab dengan tes HIV berarti ada kepastian untuk mengadapi stigma masyarakat. Padahal kebiasaan hidup beresiko tinggi seperti suka “jajan”, sex tidak aman, menggunakan jarum suntik bergantian (Drugs) dan sebagainya. Ini berarti resiko menularnya viruspun semakin besar. Selain itu, banyak orang yang menyangka dirinya “aman” dari HIV dan AIDS, namun tanpa disadari virus ini telah masuk ke tubuhnya.</p>
<p>HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS, yang menyerang sistem kekebalan tubuh, hingga si pengidap akan rentan terhadap penyakit lain. Sebelum HIV berubah menjadi AIDS pengidap akan tampak sehatdalam waktu 5 sampai 10 tahun. Meskipun begitu, dia sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan sex yang tidak aman, pemakaian jarum suntik bekas atau secara bergantian atau air susu ibu yang mengandung virus HIV, karena HIV terdapat di dalam cairan darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu.</p>
<p>AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan berbagai gejala menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. Oleh karena itu, orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit.</p>
<p>HIV dan AIDS memang menakutkan dan belum ada obatnya. Kita perlu waspada agar virus ini tidak menyebar lebih luas lagi. Namun bukan berarti pengidap HIV danAIDS kita musuhi. Hidup sehat, aman, jauhi resiko tertular dan lebih mengenal virus dan cara penyebarannya, adalah cara yang terbaik untuk menjauhkan diri kita dari HIV. Hidup dan masa depan kita adalah tanggung jawab kita sendiri.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="243">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<h3><span style="color: #ff0000;">Cara Penularan</span></h3>
<h2><span style="color: #ff0000;">• Kontak seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak   aman, dengan orang yang telah terinfeksi virus HIV.</span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000;">• Kontak darah</span></h2>
<h6><span style="color: #ff0000;">» Transfusi yang tidak teruji secara klinis</span></h6>
<h6><span style="color: #ff0000;">» Penggunaan jarum suntik berulang dan bergantian   dengan pengidap HIV dan AIDS</span></h6>
<h6><span style="color: #ff0000;">» Lain-lain: akupunktur, tindik, tatoo dengan   menggunakan jarum yang tidak steril</span></h6>
<h2><span style="color: #ff0000;">• Ibu ke anak</span></h2>
<h6><span style="color: #ff0000;">» Proses persalinan yang tidak aman dari ibu yang   sudah terinfeksi HIV dan AIDS</span></h6>
<h6><span style="color: #ff0000;">» Pemberian ASI yang mengandung virus HIV</span></h6>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p><strong>HIV dan AIDS tidak menular melalui:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff9900;">· Jabat tangan</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Bekerja bersama dengan Orang yang Hidup dengan        HIV dan AIDS</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Sentuhan</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Ciuman</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Pelukan</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Menggunakan peralatan minum/makan bersama denga        Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Gigitan nyamuk atau serangga</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Menggunakan toilet/jamban yang sama</span></li>
<li><span style="color: #ff9900;">· Tinggal bersama Orang yang Hidup dengan HIV dan        AIDS<br />
</span></li>
</ul>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<h1><em>Pencegahan HIV dan AIDS</em></h1>
<p><span style="color: #339966;"><strong>A</strong> Abstinent : Tidak berhubungan Sex.</span></p>
<p><span style="color: #339966;"> </span></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>B</strong> Be   Faithful : Saling setia dengan pasangannya.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"> </span></p>
<p><span style="color: #333399;"><strong>C</strong> Consistent : konsistent menggunakan alat pelindung</span></p>
<p><span style="color: #333399;"> </span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D</strong> Don’t : Don’t use sharing needle(jangan gunakan jarum   suntik tidak steril).</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>E</strong> Education : ketahui dan sebarkan Informasi HIV dan AIDS &amp; IMS.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber :</p>
<p><span style="color: #000000;"><a title="Fakta seputar HIV dan AIDS" href="http://kafe.gauli.com/2006/06/16/fakta-seputar-hivaids/"><br />
</a></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><a title="Fakta seputar HIV dan AIDS" href="http://kafe.gauli.com/2006/06/16/fakta-seputar-hivaids/">Kafe Gauli</a></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/22/515/fakta-seputar-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Sehat dan Bahagia dengan Penderita HIV dan AIDS</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/20/506/hidup-sehat-dan-bahagia-dengan-penderita-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/20/506/hidup-sehat-dan-bahagia-dengan-penderita-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 07:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Hidup serasa di ambang kematian. Tak ada lagi harapan ketika HIV dan AIDS dinyatakan bersemayam di tubuh. Tak heran, banyak Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS pada awalnya mengalami masa sedih yang mendalam. Bagi para Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS perempuan, sejuta pertanyaan menghantui diri. Adakah orang yang mau menikahi? Bisakah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Hidup serasa di ambang kematian. Tak ada lagi harapan ketika HIV dan AIDS dinyatakan bersemayam di tubuh. Tak heran, banyak Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS pada awalnya mengalami masa sedih yang mendalam. Bagi para </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> perempuan, sejuta pertanyaan menghantui diri. Adakah orang yang mau menikahi? Bisakah ia hamil lalu melahirkan?</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Din, sebut saja begitu, juga merasakan itu. Pada masa lalunya, ia menjalankan seks bebas dengan kekasihnya. Kehidupan bebas berakhir ketika ia bertemu Jak (27), kekasih baru yang dikenalnya menjalani hidup sehat. Dua minggu sebelum menikah, Din menjalani serangkaian tes kesehatan dan mendapatkan kenyataan pahit bahwa ia mengidap HIV. Bumi serasa runtuh hari itu. Padahal, pertunangan sudah dilaksanakan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Mengetahui kondisi anaknya, orang tua Din pun tak memaksa calon menantunya untuk melanjutkan rencana pernikahan. &#8220;Kalau Jak mau membatalkan, silakan. Tetapi kalau tetap menikahi anak saya, namanya mukjizat,&#8221; ujar orang tua Din.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Jak memang galau. Ia menemui ibunya. &#8220;Ibu bilang, kematian hanya Tuhan yang menentukan. Tak ada manusia yang bisa memperkirakan kematian orang. Bahkan dokter sekalipun,&#8221; ujar Jak menirukan kata-kata ibunya yang penuh pengertian dan sama sekali tak memiliki stigma terhadap </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">. Nasihat itu meneguhkan Jak menikahi Din.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">&#8220;Orang tua Din mengatakan pernikahan mereka mukjizat. Namun, saya merasa itu cinta,&#8221; kata Jak yang disambut tepuk tangan puluhan </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> yang hadir dalam Malam Renungan AIDS, Senin (21/5) di Gedung Yayasan Pusat Kesenian, Jalan Naripan, Kota Bandung.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">&#8220;I love you,&#8221; teriak para </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> kepada Jak yang memberikan testimoni malam itu. Maklum saja, banyak </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">sangsi ada orang bukan </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> mau hidup bersama mereka, apalagi sampai membagi hidupnya. Kata-kata Jak rupanya mengobarkan rasa dihargai dan semangat untuk hidup.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Jak melanjutkan kisahnya. Ia mengaku hidup sehat, tidak merokok, tidak minum alkohol, serta tidak melakukan seks bebas. Hidup bersih itu pula yang membuatnya yakin bisa mendampingi istrinya dalam keadaan sehat dan sakit.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Pada awal pernikahan, Jak dan Din pergi ke beberapa tempat, mencari berbagai informasi. Mereka dapat berumah tangga dengan wajar seperti pasangan bukan </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">lainnya. Syaratnya, istrinya yang </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> harus minum obat <em>Antiretroviral (ARV)</em> setiap 12 jam, tak boleh absen selama satu tahun.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Istrinya pun tak boleh minum soda. Soda menyebabkan luka di lambung. Ini akan sangat merepotkan. Bagi orang tanpa HIV, luka lambung bisa sembuh dalam tiga hari, tetapi bagi</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> bisa memakan waktu sebulan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"> </span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> juga tak boleh minum alkohol agar kekebalan tubuhnya tak mudah turun. Mereka juga tak boleh begadang agar tak mudah terserang flu. Flu bisa menggerogoti kekebalannya dalam waktu cukup lama. Lalapan atau sayur mentah pun tidak boleh lagi dikonsumsi karena lalapan kurang steril bagi mereka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Din taat menjalani aturan itu. Akhirnya, setelah setahun, ia mengikuti tes. Hasilnya sel darah putihnya kurang dari 400/mm dan virus HIV tidak terdeteksi. Dokter mengizinkan Din hamil. Jak dan Din segera mengikuti program memiliki anak. Mereka dapat berhubungan tanpa kondom. Tak lama, Din pun hamil.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Selama hamil, ia terus melakukan terapi <em>ARV</em> untuk menekan jumlah virusnya. &#8220;Kebetulan istri saya cocok menggunakan <em>ARV</em> dengan dosis ringan sehingga tidak ada keluhan,&#8221; ujar Jak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Jak terus membantu istrinya agar bisa makan sehat sesuai anjuran dokter. &#8220;Asalkan makan empat sehat lima sempurna, kekebalan tubuhnya tidak akan drop. Hidup denga </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> perempuan mudah, kok,&#8221; ujar Jak yang yakin bahwa dengan hidup sehat segala penyakit bisa diatasi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Saat melahirkan menjadi saat yang mengkhawatirkan. Namun, dokter terus mendampingi dan memberikan wawasan-wawasan baru sehingga mereka makin yakin menghadapi hari yang bagi perempuan tanpa HIV pun merupakan masa-masa sangat menegangkan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">&#8220;Dokter mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, jika </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">perempuan melahirkan normal, kemungkinan bayi terinfeksi HIV sebanyak 3 persen karena ia akan melewati lubang vagina ibunya dan kemungkinan cairan vagina itu menginfeksinya,&#8221; kata Jak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Sedangkan jika dilakukan caesar, kemungkinan penularannya hanya 0,03 persen. &#8220;Kami pilih caesar,&#8221; ujar Jak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Kini bayi mereka berusia dua minggu. Sejak pertama dilahirkan, bayinya sudah mendapatkan air susu ibu (ASI). Namun, karena gen dari ibunya masih sangat berpengaruh, bayinya pun harus mendapatkan obat <em>ARV</em> setiap delapan jam sehari. &#8220;Obat itu kami teteskan ke mulutnya. Untung anak saya tidak rewel,&#8221; ujar Jak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Bayinya baru akan dites setelah usianya 1,5 bulan. &#8220;Kami cukup tenang menghadapinya. Mudah-mudahan hasilnya negatif,&#8221; harap Jak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small;"><strong>397 Kasus</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Verdana;"> </span>Menurut Ronald Jonathan, Konsultan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Jawa Barat, provinsi ini memiliki </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small;"> perempuan cukup banyak. Hingga Desember sudah tercata 397 orang.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Ronald juga mengatakan bahwa </span></span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> perempuan tetap berkesempatan untuk hamil dan memiliki anak. Berdasarkan penelitian, hanya 25-40 persen bayi yang dilahirkan ODHA perempuan terinfeksi HIV.</span></span></span><span style="font-family: Verdana;"> </span><span style="font-family: Verdana;"></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Risiko penularan tersebut bisa dihindari jika ibu dan ayahnya melakukan hubungan seks pada saat virus tak terdeteksi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">&#8220;Sayangnya untuk tes tersebut biayanya mahal, Rp 850.000. Jadi jarang juga ada pasangan ODHA yang melakukannya, kecuali mereka yang berasal dari kalangan ekonomi atas,&#8221; ujar Ronald.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Namun, virus bisa tak terdeteksi jika </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> perempuan rajin melakukan terapi <em>ARV </em>setidaknya selama 1-1,5 tahun sebelum merencanakan hamil.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: normal; text-align: justify;" align="justify"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Artinya, asalkan disiplin, </span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;">Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</span></span><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-family: verdana,geneva; font-size: x-small;"> perempuan bisa hidup sehat dan meraih impiannya&#8230;.</span></span></p>
<p></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber <strong>:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a title="Hidup sehat dan Bahagia dengan penderita HIV dan AIDS" href="http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=070925171731&amp;offx=5"><strong>spiritia.or.id</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/20/506/hidup-sehat-dan-bahagia-dengan-penderita-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersikap Humanis Terhadap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/18/496/bersikap-humanis-terhadap-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/18/496/bersikap-humanis-terhadap-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 10:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[humanis]]></category>
		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Laju pertumbuhan pengidap HIV &#38; AIDS benar-benar sulit dikendalikan. Betapa pun berbagai upaya telah dilakukan, namun jumlah Orang yang Hidup Dengan HIV &#38; AIDS tetap tinggi. Jumlah pengidap HIV dan AIDS selama tiga bulan terakhir (April-Juni 2004) bertambah 231 orang, terbagi atas 113 orang AIDS (penderita sudah dinyatakan sakit) dan 118 pengidap HIV (penderita masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Laju pertumbuhan pengidap HIV &amp; AIDS benar-benar sulit dikendalikan. Betapa pun berbagai upaya telah dilakukan, namun jumlah Orang yang Hidup Dengan HIV &amp; AIDS tetap tinggi. Jumlah pengidap HIV dan AIDS selama tiga bulan terakhir (April-Juni 2004) bertambah 231 orang, terbagi atas 113 orang AIDS (penderita sudah dinyatakan sakit) dan 118 pengidap HIV (penderita masih sehat, namun darahnya mengandung HIV). Dengan demikian, jumlah pengidap HIV &amp; AIDS di Indonesia sejak 1987 hingga Juni 2004 tercatat 4.389 orang yang terdiri atas 1.525 orang AIDS dan 2.864 pengidap HIV .</p>
<p>Mulanya, HIV &amp; AIDS ditemukan pada kelompok homoseksual di San Fransisco pada 1981 dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia pada 1987. Sekarang, bukan hanya karena homo atau seks bebas, bayi yang tidak tahu apa-apa pun terinveksi. Konsentrasi virus ini sangat banyak di dalam tubuh, seperti darah, organ kelamin perempuan (vagina) dan sperma.</p>
<p>Penyebaran tempat tinggal Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS pun amat sporadis. Penanggulangan HIV &amp; AIDS secara intensif diprioritaskan di daerah tertentu. Prioritas mencakup enam propinsi, yakni Papua, Riau, DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Paling tidak, ada dua alasan dilakukan penanggulangan berdasarkan prioritas di enam propinsi tersebut. Pertama, karena keterbatasan dana pemerintah. Kedua, karena di enam propinsi itu terdapat tanda-tanda penyebaran HIV yang mengkhawatirkan.</p>
<p>Memang, sampai kini HIV &amp; AIDS masih identik dengan pola hidup metropolis. Namun bukan berarti, mereka yang hidup di perdesaan aman dari incaran epidemi ini. Ingat, HIV &amp; AIDS menyerang tanpa pandang bulu. Orang yang memiliki gaya hidup normal pun dapat terjangkit. Penyebabnya, misalnya karena pasangan hidupnya (suami, istri atau pacar) memiliki kebiasaan yang tidak sehat atau terjangkit HIV &amp; AIDS.</p>
<p>Sebagai perbandingan, di Papua, HIV &amp; AIDS telah menjadi epidemi yang sulit dibendung. Di sana, anak kecil serta orang baik-baik yang jauh dari perbuatan dosa serta mereka yang tinggal di gubuk reot pun mengidap HIV &amp; AIDS. Untuk itu, sangat penting bagi kita mewaspadai incaran virus mematikan ini.</p>
<p>Namun demikian, bukan berarti kita harus menyingkirkan Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Selama ini muncul kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Selain harus berperang melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya, mereka harus dikucilkan, diisolasi, dicemooh, dilaknat dan disia-siakan masyarakat.</p>
<p>Mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya, tidak lain karena minimnya informasi yang dimiliki publik. Selain itu, informasi yang mereka dapat seputar HIV &amp; AIDS sering tidak akurat dan bahkan dibumbui dengan mitos. Celakanya, mitos yang berkembang itu mengesankan bahwa Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS memang harus dijauhi.</p>
<p>Memang, sebagaimana disinyalir Dadang Hawari, seorang psikiater yang juga<br />
pejuang melawan HIV &amp; AIDS, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS umumnya adalah penzina dan pecandu yang lagi apes. Namun bukan berarti kita harus menyingkirkan mereka sama sekali dari sisi kemanusiaan. Kondisi ini justru akan memperparah kondisi Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Bahkan, bisa jadi karena mereka kecewa terhadap prilaku masyarakat terhadapnya, akhirnya dengan sengaja menyebarkan penyakit yang dideritanya. Ini bisa gawat!</p>
<p>Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS, sebagaimana juga kita, adalah manusia biasa yang mebutuhkan sentuhan kasih sayang, kelembutan, perhatian dan pekerjaan. Dalam keputusasaan, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS tetap membutuhkan perhatian, uluran tangan, dukungan moril dan materil.</p>
<p>Bisa dipastikan, seseorang yang divonis positif mengidap HIV &amp; AIDS akan dilanda kegelisahan. Namun sebagian besar kegelisahan ini, ternyata bukan karena dia harus berjuang keras melawan penyakit di tubuhnya atau karena harus membeli obat yang harganya tidak murah. Kegelisahan mereka lebih dikarenakan perasaan gamang dan takut berbaur dengan masyarakat luas. Mereka sadar, masyarakat masih salah dalam memahami HIV &amp; AIDS akibat menguatnya stigmatisasi sehingga menghindari Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Sebenarnya, kebutuhan mendasar Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS selain obat adalah afiliasi (afiliation need). Mereka butuh seseorang untuk berbagi derita yang dialami. Mereka membutuhkan uluran tangan konselor yang memberi suntikan informasi seputar HIV &amp; AIDS dan semangat hidup, sehingga hidupnya bisa terjaga dan tidak berbahaya bagi orang lain. Itu pun belum cukup. Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS juga membutuhkan sentuhan dan berbagi dengan sesamanya. Karenanya, penting bagi masyarakat untuk menfasilitasi sebuah komunitas Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Dengan adanya komunitas sesama Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS, setidaknya mereka akan menemukan semangat baru dalam hidupnya untuk bisa tegar sebagai Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Karena mereka semakin sadar, penderitaannya juga dirasakan oleh orang lain. Lebih penting lagi adalah, sudah saatnya kita memberangus stigma seputar Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS yang didasarkan informasi salah. Dalam hal ini, media massa memiliki peran yang tidak kecil.</p>
<p>Media dapat membantu mempercepat hilangnya mitos, stigma, maupun salah paham soal HIV &amp; AIDS, di samping menekan laju peningkatannya. Bagaimana media mampu menghadirkan informasi seputar HIV &amp; AIDS dengan bersahabat, tidak menakut-nakuti masyarakat. Menurut beberapa studi, sebagaimana dipaparkan Cher Jimenez (wartawan peduli AIDS), cara terbaik adalah memberikan citra positif kepada mereka yang hidup dengan HIV &amp; AIDS. Ini bukan berarti kita mengeluhkan Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS, tetapi bagaimana menghadirkan informasi secara proporsional dan benar sehingga mampu memangkas stigma serta ketakutan masyarakat yang tidak mendasar itu.</p>
<p>Dari sini diharapkan muncul internalisasi cara pandang yang benar terhadap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Kita pun dapat memperlakukannya secara adil tanpa membahayakan diri kita. Dengan demikian, Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS dapat hidup secara lebih bermakna dengan segenap deritanya. Apakah salah, kita memberi kesempatan kepada Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS untuk hidup bahagia bersama kita?</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a title="Bersikap Humanis Terhadap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS" href="http://groups.yahoo.com/group/pelita/message/7505">M Hilmi Faiq dan Romay Adipenas</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/18/496/bersikap-humanis-terhadap-orang-yang-hidup-dengan-hiv-dan-aids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HIV dan AIDS dan Kemanusiaan</title>
		<link>http://hidupituindah.com/2009/11/17/492/hiv-dan-aids-dan-kemanusiaan.html</link>
		<comments>http://hidupituindah.com/2009/11/17/492/hiv-dan-aids-dan-kemanusiaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 09:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evelyn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidupituindah.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[HIV dan AIDS tampaknya telah menjadi fenomena global yang mengundang perhatian dunia. Betapa tidak, sejak pertama kali dikenal pada tahun 1981, AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta orang dan mencapai rekor sebagai penyakit paling mematikan dalam sejarah.
Wabah global
Dengan skala dan impact-nya yang luas, HIV dan AIDS telah menjadi epidemi global yang menyerang setiap tingkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HIV dan AIDS tampaknya telah menjadi fenomena global yang mengundang perhatian dunia. Betapa tidak, sejak pertama kali dikenal pada tahun 1981, AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta orang dan mencapai rekor sebagai penyakit paling mematikan dalam sejarah.</strong></p>
<p><strong>Wabah global</strong><br />
Dengan skala dan impact-nya yang luas, HIV dan AIDS telah menjadi epidemi global yang menyerang setiap tingkat kehidupan masyarakat sekaligus salah satu ancaman paling serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini, karena tidak ada satu negara pun yang dapat mengklaim wilayahnya bebas dari HIV dan AIDS.</p>
<p>Perkembangan kasus HIV dan AIDS di Indonesia sendiri sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut catatan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI (Ditjen PP &amp; PL), sampai dengan 30 Juni 2006 kasus HIV dan AIDS secara kumulatif telah mencapai angka 10.859 kasus dengan rincian 6.332 penderita AIDS dan 4.527 pengidap HIV.</p>
<p>Kondisi itu semakin memprihatinkan karena persentase tertinggi terdapat pada usia produktif (54,12% kelompok usia 20-29 tahun dan sekitar 26,41% pada kelompok usia 30-39 tahun disusul kelompok umur 40-49 tahun sebesar 8,42%).</p>
<p>Meskipun data ini merupakan data resmi dari pemerintah, namun data sesungguhnya tidak ada yang tahu berapa persisnya, karena HIV dan AIDS seperti fenomena gunung es, apa yang terlihat hanyalah puncak yang menyembul di permukaan tanpa diketahui seberapa dalam dan besar kasus yang sebenarnya terjadi.</p>
<p><strong>Masalah Kemanusiaan</strong><br />
Isu HIV dan AIDS menjadi unik karena memiliki kekhasan, yaitu aspek klinis atau yang biasa disebut aspek medis dan aspek fenomena sosial atau kemanusiaan. Secara medis, AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) dinyatakan sebagai kumpulan gejala penyakit yang membuat tubuh sulit mencegah terjadinya infeksi penyakit. Berkurangnya kekebalan tubuh itu sendiri disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga menyebabkan turunnya kekebalan tubuh.</p>
<p>Kerusakan pada sistem kekebalan tubuh itulah yang mengakibatkan pengidapnya sangat mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun, lama-kelamaan dapat mengakibatkan pengidap AIDS sakit parah, bahkan meninggal dunia.</p>
<p>Sejak lama, berbagai solusi telah dikeluarkan untuk mengatasi gerak laju HIV dan AIDS. Dan saat ini sejarah pengobatan HIV dan AIDS telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dengan ditemukannya obat antiretroviral (AZT). Akan tetapi, selain terbilang mahal, obat ini hanya sebatas memperlambat pembelahan (reproduksi) virus dan mencegah atau mengurangi beberapa efek yang diakibatkannya. Dengan kata lain, sampai sekarang sesungguhnya belum ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIVdan AIDS.</p>
<p>Dari aspek medis, persoalan HIV dan AIDS kemudian meluas kepada fenomena kemanusiaan. Hal ini karena penularan HIVdan AIDS acapkali dikaitkan dengan perilaku sosial, seperti freesex, penggunaan narkoba, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.</p>
<p>Akibat keterkaitannya dengan perilaku yang mungkin dianggap tidak layak itulah, orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS  rentan mendapat perlakuan diskriminatif, karena stigma bahwa mereka tidak bermoral. Akibatnya, mereka sering mendapat perlakukan yang tidak manusiawi; banyak di antara mereka yang dikeluarkan dari pekerjaannya, diusir dari rumahnya, maupun ditolak oleh keluarga dan kawan-kawannya, serta sejumlah perlakuan diskriminatif lainnya.</p>
<p>Diskriminasi terhadap penderita HIV dan AIDS juga dituntun oleh mitos. Orang enggan berdekatan dengan penderita HIV dan AIDS karena menyangka bisa tertular oleh keringat atau hembusan nafasnya. Dalam suasana kesalahpahaman, ketakutan, dan bahkan kebencian seperti itulah, orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS harus menjalani sisa hidupnya dengan hak-hak asasi yang terampas.</p>
<p>Mengingat begitu kompleksnya fenomena sosial-kemanusiaan tersebut, kasus HIV dan AIDS menjadi sarat dengan muatan-muatan hak asasi manusia. Oleh karena itu, kita tidak bisa seenaknya mengekspos secara lengkap identitas dari pengidap HIV dan AIDS. Sebaliknya, kita juga tidak bisa membenarkan seorang pengidap &#8211; yang karena perasaan dendam misalnya -secara bebas melakukan aktivitas yang berpotensi menularkan kepada orang lain.</p>
<p>Pertimbangan lainnya adalah cara penularan. Dalam beberapa kasus memang bukan semata-mata kesalahan pengidap, seperti kasus transplantasi, donor darah, dan janin dari ibunya.</p>
<p>Atas dasar hal ini, maka menerima apa adanya pengidap HIV dan AIDS, menjadi lebih penting ketimbang mempersoalkan dari mana ia mendapatkannya, dari siapa, kapan, mengapa ia bisa tertular, yang justru akan lebih membawa luka baru bagi para pengidap HIV dan AIDS. Atas dasar kemanusiaanlah, maka dia harus mendapatkan hak-haknya sebagai manusia sebagaimana layaknya. Di sinilah fungsi pendamping, utamanya keluarga, dapat lebih berperan sehingga sisa-sisa hidupnya dapat lebih berguna terutama bagi dirinya dan juga masyarakat.</p>
<p><strong>Musibah</strong><br />
Setiap penyakit merupakan musibah yang bisa menimpa siapa pun. Ketika AIDS diposisikan sebagai musibah dan ujian maka semua orang harus berpikir positif, baik Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS maupun yang bukan Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS. Sebagai Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS yang tertular karena free sex misalnya, penyakit yang diderita harus dipandang sebagai cambuk kasih sayang Tuhan. Dengan pemikiran positif ini, diharapkan seorang Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS  akan tegar menerima kenyataan, mau menjaga diri, mengisi sisa-sisa hidup dengan melakukan segala sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan dan berperilaku aman sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.</p>
<p>Bagi mereka yang bukan Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS, AIDS bisa dijadikan peringatan keras untuk tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang memungkinkan terjangkit AIDS, seperti perilaku seks yang tidak baik (sah dan aman) dan mengkonsumsi narkotika. Pada saat yang sama, AIDS juga merupakan tantangan untuk menguji sejauh mana komitmen mereka untuk tetap berperilaku manusiawi terhadap para Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS.</p>
<p><strong>Resosialisasi para </strong><strong>Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS</strong><strong> </strong><br />
Diskriminasi, dan pengucilan terhadap Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS harus diubah dan ditinggalkan. Beban yang dialami penderita  Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS sudah sangat besar. Bila stigma masyarakat di sekitarnya negatif, beban penderitaan mereka akan semakin besar dan terakumulasi. Mereka harus mendapatkan perhatian yang serius dan dihindarkan dari kemungkinan untuk berputus asa dengan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, bukan dijadikan bahan cercaan. Seharusnya, para Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS dikembalikan pada kehidupan sosial yang sesungguhnya karena interaksi sosial tidak akan menimbulkan penularan HIV dan AIDS.</p>
<p>Sesungguhnya, diskriminasi terhadap penderita HIV dan AIDS bukan saja melanggar hak-hak asasi manusia, melainkan juga sama sekali tidak membantu usaha mencegah epidemi ini. Mengucilkan penderita HIV dan AIDS tidak akan mengecilkan bahaya penularan HIV dan AIDS.</p>
<p>Stigma dan diskriminasi keduanya menjelma menjadi penghalang terbesar bagi penanganan efektif epidemi ini. Dalam hal ini, pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin dan melindungi hak-hak penderita HIV dan AIDS sama seperti terhadap warga negara lainnya. Diskriminasi terhadap mereka harus dikikis dengan cara memastikan bahwa hak-hak mereka terhadap layanan dan fasilitas kesehatan diakui dan dilindungi, untuk diperlakukan sebagai orang yang sedang sakit dan bukan orang yang membawa penyakit.</p>
<p><strong>Penyuluhan tentang AIDS</strong><br />
Setiap orang yang terinfeksi maupun yang terkena dampak dari HIV dan AIDS membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Di pihak lain, upaya terpenting dalam memerangi AIDS sesungguhnya adalah pendidikan dan penerangan kepada masyarakat. Selain memberi bimbingan dari sisi moral dan akhlak, yaitu mendorong masyarakat untuk menjalani kehidupan yang sehat, penerangan mengenai apa sebenarnya penyakit AIDS juga harus disebarluaskan kepada masyarakat. Sebagian besar dari mereka terjangkit penyakit AIDS karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi.</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a title="HIV dan AIDS Dan Kemanusiaan" href="http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/spesial/hiv_aids_1981_2006/hiv_aids_dan_kemanusiaan061129-redirected">Radio Nederland Wereldomroer</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidupituindah.com/2009/11/17/492/hiv-dan-aids-dan-kemanusiaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

